Declar Negeri Pelangi
Declar Negeri Pelangi
Pertamina tower
Saya, Ras Muhamad, Bens Leo dlm Launching @NegeriPelangi_
Launching @NegeriPelangi_
Sudah terbunuh beribu kali
Habilku oleh Qabil Indonesiaku
Sudah karam beribu kali
Kapal Nuhku oleh bandang banjir Indonesiaku
Sunyi sepi jiwa Yunusku
Tak kunjung lepas dari panas perut Indonesiaku
Lunglai baja besi kapak Ibrahimku
Di sela reruntuhan berhala-berhala Indonesiaku
Putus leher beribu-ribu Ismailku
Oleh gigir pedang jahiliyah Indonesiaku
Terbelah laut dan tenggelam Firaun oleh tongkat Musaku
Tongkatku patah, lahir Firaun demi Firaun berwajah Musa
Kuthariqati seribu puasa pada setiap hari Daudku
Yang lahir bukan Sulaimanku, melainkan Bulqis klenik Indonesiaku
Tetapi ketika merapuh tulang belulang Zakariaku
Allah mengirim Yahya di pancaran wajahmu
Cahaya menyebar wangi bayi Isa
Puncak adegan segera dikuakkan tabirnya
Menuju penjelmaan kedua Nur Muhammad
Kenduri cintaku menerangi semesta jagat
Yogya, 8 Februari 2013. 22:25 WIB.
EMHA
*) Disiarkan di radio buku dalam program Angkringan pada 5 dan 7 Desember 2012
MAFTUHAH HAMID lulusan jurusan Matematika yang berbelok menjadi editor buku pada Penerbit Galangpress Yogyakarta. Ia menyenangi buku sejak di bangku sekolah dengan terlibat dalam kegiatan jurnalis. Ketika kuliah, ia juga melibatkan diri di kegiatan jurnalis, Pers Mahasiswa. Ia tekuni saja dan rajin menulis. Di Penerbit Galangpress, mulanya ia seorang desain grafis. Namun ia tak hanya tinggal diam di situ saja. Ia juga membantu editor hingga akhirnya dipercaya sebagai editor.
Berikut #23Tweets-nya:
1) Sehari2nya, @maftuhaH_ dikepung buku. 6 tahun bekerja di @galangpress sebagai editor. Mulanya desain grafis #23tweets
2) Ketertarikan @maftuhaH_ pada buku mulanya dengan menekuni kegiatan Jurnalis di sekolah, diteruskan ketika kuliah dengan bergabung Pers Mahasiswa ARENA #23tweets
3) Menurut @maftuhaH_ Kerja editor adalah meramu draft menjadi sebuah naskah yg layak dibaca khalayak #23tweets
4) @maftuhaH_ sebagai editor tak hanya diam di kantor, ia juga membangun jaringan. Keluar tak bawa kartu nama adalah kesalahan bagi editor #23tweets
5) Menerbitkan buku harus memenuhi tuntutan pasar. Bagi @maftuhaH_ trend buku sama seperti trend musik #23tweets
6) @maftuhaH_: Kalo ingin menulis tak perlu mikir apa mau pasar. Pasar itu urusan penerbit. Kecuali kalau nulis buku populer #23tweets
7) @maftuhaH_: “Buku Laku” tak hanya ditentukan pasar. Bisa karena issue, tema, penulis, komunitas, media, dll. Seperti buku “Gurita Cikeas” #23tweets
8) Ikuti “trend isu” bukan trend “buku” seperti @galangpress yang dikenal dengan buku2 sospol dan kontroversi cc @maftuhaH_ #23tweets
9) Beda dengan penerbit indie yang tak butuh isu maupun moment. Namun lebih pada kesepakatan antara penulis dan penerbit cc @maftuhaH_ @indiebookcorner #23tweets
10) @maftuhaH_ Seorang editor tak harus lulusan jurusan Bahasa dan sastra. Asal tekun dan tahu buku. Selebihnya sambil jalan #23tweets
11) Siapa pun bisa jadi penulis. Biasanya terinspirasi dari buku lain. Setelah nulis, posisikan diri sebagai pembaca cc @maftuhaH_ #23tweets
12) @maftuhaH_: Untuk buku “Gurita Cikeas” idenya dari Pak George Aditjondro. @galangpress membantu menerbitkan dan promosi #23tweets
13) Adanya penerbit Indie membuka peluang luas bagi penulis. Produksi dan distribusinya berbeda dengan penerbit major @maftuhaH_ cc @indiebookcorner #23tweets
14) Di penerbit major, penulis modal naskah. Lainnya urusan penerbit. Kalau indie harus ada kesepakatan keduanya cc @maftuhaH_ @indiebookcorner #23tweets
15) Jika penulis yakin tulisan diterbitkan penerbit major, segera kirim. Lebih untung tapi selekstif. cc @maftuhaH_ @indiebookcorner #23tweets
16) kalau di penerbit indie, kemungkinan menolak sangat kecil asal bisa mendanai cc @maftuhaH_ @indiebookcorner #23tweets
17) Menerbitkan buku itu gambling. Spekulasi. Yakin buku itu terjual tapi nyatanya meleset cc @maftuhaH_ #23tweets
18) “Buku Laku” selain dr isu, juga harga. Meski banyak tema sama, tapi kalau lebih murah bisa menjadi faktor laku cc @maftuhaH_ #23tweets
19) Setiap penerbit memiliki sistem kerjasama berbeda. Ada yang royalti, ada beli putus/tunai. Pilih tipe kerjasama anda cc @maftuhaH_ #23tweets
20) Beli putus adalah beli naskah kontan. Royalti bagi hasil penjualan. kalau penerbit indie kerjasamanya beda lagi cc @maftuhaH_ @indiebookcorner #23tweets
21) “Ayo, kita menulis” ajak @maftuhaH_. Agar berguna bagi yg lain. Menerbitkan buku adalah berbagi ilmu #23tweets
22) Penerbit @galangpress membuka peluang bagi naskah apapun. “Kirimkan dulu, biar kami seleksi” kata @maftuhaH_ #23tweets
23) @maftuhaH_ menyenangi buku2 sastra dan buku2 inspiratif. Menguasai ilmu sastra itu penting bagi editor #23tweets
Nah booklovers, itulah tadi obrolan dan #23tweets bersama @maftuhaH_. Terima kasih telah mendengarkan. radiobuku.com
Sumber: http://radiobuku.com/baca/441/%252323tweets-maftuhah-hamid.html
(Source: Sumber: http)
Kata kebenaran, padanannya adalah the thruth, atau bahasa Arabnya: al-haq. Kita pakai kata itu ketika menjelaskan firman Tuhan, teologi, hukum, moral, dan lain sebagainya.
Sedangkan kebetulan, akronim yang dipakai biasanya adalah blessing in disguise. Bahasa Al Qur’annya “min haitsu la yahtasib”.
Istilah kebetulan biasanya dipakai untuk menjelaskan nasib baik yang tak disengaja, keberuntungan yang di luar perhitungan. Min haitsu la yahtasib, (dari sesuatu yang tidak engkau perhitungkan). Kalau saya dianiaya orang, saya langsung kutip kata-kata Allah itu: min haitsu la yahtasib!, ada sesuatu yang tak engkau sangka-sangka akan mendatangimu, tentunya atas kehendak Allah.
Kehendak Allah itu kebenaran, bukan hanya kebetulan.
Huruf-huruf sudah mati tak terbaca lagi
Granat dan sajak-sajak mampet
Kata-kata bungkam
Pandangan pun padam
Gelap di mana terang di mana
Tak tahu rimba
Hanya binatang purba kembali bertahta menghabiskan diriku di kegelapan sempurna
Tak ada lagi adzan
Heran tak ada
Tuhan tinggal papan nama
dan sudah tak dapat dieja
yang tersisa mungkin jejaknya
abadi mengembara merajah di samudera rahasia
Perahu tanda tanya berlayar dalam gelap mencari pelabuhan berlampu jawab
Mata gaib mengintip cermin dilapis paling galib
Wajahku hangus di tungku waktu
Ajal terganjal para penjagal
Gerak berhenti di katup ragu
Matahari marah
Bulan purnama memerah
Bintang-bintang melompat
Angin tak bertiup
Burung-burung melesat di ruang hampa
udara melaporkan keganjilannya
Debu tak beterbangan
Kuda-kuda tak meringkik
Bisik pun tak terdengar
Juga desah nafasmu tak lagi tersengal
Sungai-sungai tak mengalir lagi
Selamat pagi udara …
Sejuk sekali kau pagi ini
Hujan semalam sepertinya cukup meredam panas bumi
Memang perlu seperti itu
Seperti hati manusia yang butuh siraman
Mereka yang berkobar amarahnya
Mereka yang membara kebenciannya
Mereka yang menyalakan api permusuhan
Mereka yang panas akal pikirnya
Tak mampu berpikir jernih
Emosional
Temperamen
Siraaammm!!!
Udara
Pagi ini kau buktikan
Kesegaranmu merasuk jiwaku
Jiwa yang pernah kalah
Jiwa yang sering diacuhkan
Jiwa yang terabaikan
Sungguh
Kesegaranmu memupuk kerelaanku
Membuka kesadaran
Hingga kutemukan arti sebuah hikmah
Udara
Kuharap kau terus temani aku
Menyambut pagi merangkul hari
Memecahkan segenggam harapan dan cita-cita
Di mana pun aku, ada engkau kusanggup
Udara
Napasku sepanjang hayat
Ikhlaskan dirimu kuhirup dan kulepas
Kubutuh kau hingga ajali
Baciro, 13 Oktober 2012
Menunjuk hidung, bagi orang Jepang adalah cara memperkenalkan diri, ujung jari telunjuk tangan kanan mengarah ke hidung sendiri, menunjukkan “inilah aku“. Kalau orang jawa atau di Indonesia umumnya mengarah ke dada, maka ada kata inilah dadaku, berarti bahwa aku ada. Jari telunjuk saat bergerak dia datang dari hati yang paling dalam, biasanya digunakan untuk sesuatu yang baik, menunjukkan jalan kepada orang tersesat, atau menunjuk tempat yang akan dituju.
Menunjuk hidung ke arah orang lain, biasanya memberitahu ada kotoran di hidungnya atau mengejek (maaf) kebiasaan seseorang mengupil sering menjadikan seseorang menunjuk hidungnya, karena tanpa disadari ada sedikit upil yang menempel. Menunjuk lebih sering memberikan arah kepada orang lain, datangnya dari ketulusan hati, untuk siapa saja yang bertanya, atau mencari tahu. Menunjuk juga kadang memerintah, atau mempercayakan kepada orang lain. Menunjuk sekali berarti untuk hal yang baik-baik, namun kalau sudah menunjuk-nunjuk, atau ditunjuk-tunjuk menjadi tidak baik.
Dalam kepemimpinan seseorang ditunjuk sekali dalam hidupnya untuk menjadi pemimpin, apabila terus-terusan ditunjuk, seseorang ditunjuk-tunjuk, karena terpaksa bukan karena ketulusan, berakibat tidak baik, untuk dirinya dan yang dipimpinnya. Lebih mudah menunjuk orang lain daripada menunjuk diri sendiri, apalagi menunjuk hidung. Mengamati kesalahan orang lain lebih mudah daripada mengamati kesalahan sendiri, kedua mata selalu mengarah kedepan, artinya keorang lain, terkadang mata kita lupa diajak bercermin, bahwa retina kita berdebu atau diujungnya ada kotoran.
Manusia hidup bersama dengan manusia, alam juga binatang, semua makhluk melangkah bersama menuju alam keabadian dengan caranya sendiri-sendiri. Setelah melangkah bersama, ditengah perjalanan tujuan hidupnya, banyak hal terjadi, kekeliruan, salah faham, ketidak harmonisan, menjadi bumbu dalam perjalanannya. Saat menemui jalan buntu, bermacam argument datang, menganggap benar pendapatnya, dan menyalahkan pendapat bahkan ucapan dan tindakan orang lain, dianggap sesuatu yang wajar. Batas kewajaran menjadi bias, masing-masing menunjuk hidung yang lain, seakan-akan diujung hidung temannya itu ada noda hitamnya semua, sampai-sampai tahi lalatpun dianggap noda, karena berwarna hitam.
Tunjuk hidungmu, mari menunjuk hidung kita sendiri sebelum menunjuk hidung orang lain, inilah aku, ini hidungku, bukan mauku hidungku seperti ini, memang tidak harus setiap orang mengetahui isi hidung, dan panjang rambut hidung kita, namun senantiasa bercermin bahwa hidungku adalah sesuatu yang indah, yang harus dijaga, sebab tanpa hidung yang sehat akan sulit bernafas, kalau sudah sulit bernafas penyakit mudah masuk, kalau sering sakit-sakitan berfikirpun menjadi tidak karuan. Anggaplah hidung teman, dan orang lain lebih indah dari hidung kita.
Menghirup udara lewat hidung tidak dapat sekaligus, pelan-pelan menghirup, begitu juga dalam menghembuskannya. Tugas hidung adalah menghirup dan mencium, bukan menentukan sesuatu itu baik atau buruk apalagi halal dan haramnya, untuk dapat menentukan keputusan itu berdasar keseriusan dan kekompakan dengan seluruh indera yang ada dalam tubuh manusia.
Tunjuk hidungmu, dapat juga sebagai seruan bagi aku, kamu dan kita semua untuk yang pertama kali bukan menyalahkan orang lain dalam menghadapi keadaan kita bersama, atas ketidak beresan keadaan lingkungan kita ini. Mungkin saja kesemerawutan ini hanya kamu yang mampu mengatasinya, namun kamu malu-malu, enggan untuk menunjukan mampumu itu, menunjukan hidungmu. Boleh jadi karena keenggananmu untuk memulai menjadi penghambat bagi kebaikan yang mengantri dibelakangmu.
#EAN
Siapakah itu wahai sirrus samaran
Yang bicaranya kalam tuhan
Yang langkahnya kehendak tuhan
Yang matanya pandangan tuhan
Yang tangannya kuasa tuhan
Yang kasihnya tuhan
Yang pendengarannya tuhan
Yang tuhan
Siapakah?
Siapakah itu yang memanggul gelondongan kayu sendirian menerobos ruang demi ruang
Siapakah itu yang berdiri di keremangan
Menyandang laras senapan mengawasi kami?
Yaa fattaah yaa lathiif
Wong tentrem kui ra mesti sugih
Sing penting sehat,
lan pinter syukur
hidup itu seperti mengedarai sepeda
agar hidup tetap seimbang
maka kita harus bergerak
berkarya untuk hidup
bukan hidup untuk bekerja
bukan semata mengepul materi
atau target menjadi kaya
bekerja agar berguna
membawa terang bagi kehidupan
bukan benalu para tuan
apalagi budak yang memuja harta benda
kejar pengalaman dan peluang
terus berproses hingga matang
tanpa peduli hasil
biarkan semua mengalir
hasil adalah bonus
yang terpenting dari semua itu
adalah konsisten dengan apa yang kita jalani
pada saatnya,
hasil apa pun itu akan mengikuti dengan sendirinya
dan puncak atas semuanya
adalah bersyukur
itulah kepuasan hati yang terdalam
Baciro, 29 Desember2012
(Source: twitter.com)
seorang lelaki tua
usianya lewat paruh baya
jalannya tertatih
gontai tak terarah
tubuhnya rentah
menyepuh lemah
jauh dari perkasa
suaranya tidak saja parau
namun sulit dimengerti
tidak jelas apa yang diucap
dia bisu yang susah untuk berkata
setiap hari kujumpai dia di perempatan jalan raya kota
di bawah traffic light
di tengah lalu lalang kendaraan yang menghadiahi asap polusi untuknya
dia jajakan lembaran koran pada para pengemudi
kadang sedapatnya dia hampiri kendaraan yang mengantre saat lampu merah
sesekali aku datangi dia
kubeli satu korannya
padahal aku tak gemar baca koran
aku hanya ingin menyapa
sambil memberi uang kertas yang nilainya tidak tentu
tapi berapa pun nilainya
besar ataupun kecil tak pernah dia lihat
semua masuk ke kantongnya
dia tukar dengan selembar koran
lelaki tua itu,
mungkin sudah lupa rasanya lelah
tapak kakinya yang tebal tanpa alas
menyapu lantai aspal yang panas di siang hari
itulah lakonnya
dia jalani dengan setia
sesetia usia hidupnya
yang kutahu, semua dilakukan untuk menghidupi keluarganya
kemana anak-anaknya?
Duh Gusti …
andai dia bapakku
aku tak akan rela
aku tak mungkin tega
membiarkan sisa masanya
meradang sendirian di tengah arus lalu lintas
menunggu belas kasih para penyaksi
mengharap simpati
hingga Yang Mahakasih menjelma menjadi orang-orang yang pengasih
oh, kehidupan
Baciro, 28 Desember 2012
butterfly beautiful